Oleh Ades Iskandar Nasution
Pagi itu seorang gadis kecil duduk termenung di bawah pohon jambu di depan rumahnya, sambil memainkan sapu lidi di tanah seakan melukis diatas kanvas yang luas. Coretan akibat gesekan lidi itu tampak tidak beraturan kesana kemari, ini menunjukkan bahwa dia sedang galau. Tapi entah apa yang membuatnya berperilaku seperti itu, sesekali wajah murungnya menatap ke arah jalan yang sering dilaluinya saat berangkat ke sekolah. Kemudian dia tertunduk lagi dan asyik memainkan sapu lidinya kembali. Dia tersadar saat Bu Ros memanggil-manggil namanya.
“Yuuuuunn………”
“Yuuuuuniiiiii”
Teriakan Bu Ros yang tak lain adalah emaknya, membuat Yuni tersadar dari lamunan semunya.” Iya…maakkk” jawab Yuni sambil berlari kecil menuju asal suara itu.
“Dari tadi dipanggil kenapa tidak menjawab” ujar Bu Ros
“Maafkan Yuni mak,tadi Yuni tidak dengar” jawab Yuni tetunduk merasa besalah.
“Masih kecil sudah melamun, apa sih yang kau lamunkan” tanya Bu Ros penuh curiga
“Ah….siapa yang melamun mak, Yuni tadi tidak dengar” kata Yuni berusaha menutupi kegalauan hatinya.
“Sudah siap kejaanmu”
“Belum mak”
“Loh…dari tadi apa saja kerjamu, sudah lebih setengah jam emak mencuci, hanya menyapu halaman kau tak becus” hardik Bu Ros ke arah Yuni yang masih terdiam menunduk.
“Maaf kan Yuni mak,” jawab Yuni yang masih tetap tertunduk, tapi kali ini ada setetes air mata yang jatuh membasahi pipinya.
“Loh…kok menangis nak, ada apa sebenarnya, ceritalah sama emak” kata Bu Ros sambil merangkul gadis kecil yang ada di depannya.
“Mak…..Yuni rindu sekolah hu…hu…hu”
Seketika itu tangis Yuni meledak sambil memeluk emaknya.
Melihat kondisi anaknya seperti itu, dia hanya bisa memeluk dan memberikan dekapan hangat sambil membelai rambut Yuni.
“Nak…..ini bukan kemauan kita, situasilah yang membuat semuanya seperti ini, sejak wabah covid 19 tiga bulan yang lalu melanda negara kita tak terkecuali kampung kita kena imbasnya. Situasi ini membuat kita harus tetap berada di rumah sesuai dengan anjuran pemerintah. Itu semua kita lakukan untuk memutus mata rantai penyebarannya.” Jelas Bu Ros berusaha memberi pengertian kepada anaknya.
“Tapi sudah tiga bulan Yuni tidak sekolah mak, kata kawan-kawanku mereka masih bisa belajar secara online”jelas Yuni merasa kecewa karena tidak bisa seperti kawannya yang lain.
“Mereka bisa belajar online karena mereka mampu nak, sementara kita untuk makan saja masih kesulitan. Ayahmu hanya seorang penarik becak dan penghasilannya sangat jauh berkurang di masa covid 19 ini. Kami sangat memahami kekecewaanmu nak, kalau ada uang nanti kita beli hp android agar kau bisa belajar di rumah. tapi….. hu…hu..hu”” isak tangis Bu Ros yang tak sangup melihat kondisi anaknya.
(Bersambung…..)
SINAR BATARA|LABUSEL – Anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi Gerindra, Edi Romansyah, menggelar reses tahap I…
SINAR BATARA | JAKARTA – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) tengah…
SINAR BATARA|MEDAN, 12 September 2026 – Universitas Amir Hamzah (Unaham) secara resmi melepas 169 Sarjana…
Anyang ayam adalah hidangan tradisional khas Sumatra Utara—khususnya daerah pesisir seperti Labuhanbatu, Labuhanbatu Selatan, Labuhanbatu…
Oleh Ades Iskandar Nsution Di sudut Kotapinang, Labuhanbatu Selatan, terdapat sebuah oase spiritual yang menyimpan…
(ASAL MULANYA MARGA TANJUNG DI PATIHE) Oleh : Wan Ades Iskandar Nastion Sorkam adalah salah…