Oleh : Wan Ades Iskandar Nasution
(Disampaikan saat Seminar Kebudayaan pada Festival Kebudayaan Sei Kanan)
Kebudayaan bukanlah fosil mati yang dikurung di dalam lemari kaca museum, bukan pula benda kaku yang tidak bisa berbuat apa-apa. Kebudayaan itu bernapas, bergerak, dan hidup bersama kita!
Budaya adalah bahasa sehari-hari dan istilah gaul yang kita ucapkan saat nongkrong. Budaya adalah cara kita memperlakukan sesama, baik di dunia nyata maupun di media sosial. Budaya bukan sekadar warisan masa lalu untuk ditonton, melainkan identitas masa kini yang harus kita hidupi.
Berhentilah mencari kebudayaan hanya di masa lalu. Berkacalah, karena kebudayaan adalah kita! Makna dari “kebudayaan adalah kita” menegaskan bahwa budaya merupakan refleksi langsung dari identitas, perilaku, pikiran, dan cara hidup manusia saat ini. Manusia dan kebudayaan adalah satu kesatuan luhur yang tidak dapat dipisahkan.
Pemajuan Kebudayaan: Energi Hidup Penggerak Masa Depan
Kebudayaan adalah energi hidup yang menggerakkan masa depan bangsa. Pemajuan kebudayaan merupakan langkah strategis untuk membawa kekayaan tradisi Nusantara agar terus relevan, berdaya saing, dan menjadi akar identitas di tengah arus modernisasi. Komitmen ini telah termaktub dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Terdapat empat pilar strategis dalam Pemajuan Kebudayaan yang harus kita jalankan:
- Pelindungan (Menyelamatkan adat, bahasa, dan tradisi dari kepunahan): Langkah awal yang krusial adalah menginventarisasi adat istiadat daerah demi penyelamatan di masa mendatang. Pendataan ulang seluruh aset budaya—baik lisan, tulisan, kesenian, hingga artefak—akan mempermudah kita dalam membangun pusat data (database) kebudayaan lokal yang akurat.
- Pengembangan (Menghidupkan kembali nilai budaya lewat inovasi baru): Setelah pendataan rampung, kita sebagai bagian dari kebudayaan tersebut harus aktif menghidupkan kembali tradisi yang mulai ditinggalkan. Tujuannya agar budaya tersebut kembali relevan melalui ramuan sentuhan modernisasi dan inovasi kreatif.
- Pemanfaatan (Menggunakan seni budaya untuk kesejahteraan dan diplomasi): Ketika adat istiadat telah mengakar kuat di lingkungan pelajar dan masyarakat, kebudayaan akan daya tarik tinggi. Hal ini dapat dikonversi menjadi sumber pendapatan masyarakat. Contohnya melalui pengelolaan sanggar seni, lukis, atau tari yang berkualitas tinggi guna menciptakan peluang ekonomi kreatif.
- Pembinaan (Meningkatkan kompetensi pelaku dan komunitas budaya): Pemerintah harus hadir sebagai pembina yang tulus mendukung keberadaan sanggar-sanggar seni lokal yang kompeten. Dukungan pendanaan dan fasilitas sangat penting, karena pondasi sanggar daerah yang kokoh akan menjadi motor penggerak kebudayaan lokal menuju panggung yang lebih tinggi.
Ruang Inklusif: Menolak Sekat, Merangkul Perbedaan
Sekolah adalah miniatur dunia. Di dalam ruang kelas yang sama, kita duduk berdampingan dengan teman-teman dari latar belakang suku, agama, dan cerita budaya yang berbeda. Di antara kita, hadir pula teman-teman disabilitas yang memiliki cara unik dalam belajar, bergerak, atau berkomunikasi.
Bagi seorang pelajar, memahami arti inklusif tidak memerlukan teori yang rumit. Inklusif itu sederhana: berhenti merundung (stop bullying) dan berhenti mengotak-ngotakkan teman.
- Hentikan Perundungan: Menolak segala bentuk kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis kepada siapa pun.
- Hapus Kubu-Kubuan: Tidak membatasi pertemanan berdasarkan status ekonomi, tingkat kepintaran, atau kondisi fisik.
- Rayakan Keragaman: Menjadikan perbedaan suku dan agama sebagai ruang belajar bersama untuk memperkaya wawasan.
- Dukung Teman Disabilitas: Memberikan ruang, bantuan, dan kesempatan yang setara agar dapat berkembang bersama.
Mengapa Sikap Inklusif itu Penting?
Ketika kita memilih untuk inklusif, kita sedang membangun sekolah yang aman untuk semua orang. Sekolah bukan lagi tempat yang menakutkan, melainkan rumah kedua tempat setiap anak merasa diterima, dihargai, dan didengar. Sikap inklusif melatih empati, mengasah kecerdasan sosial, dan membentuk kita menjadi generasi masa depan yang siap hidup di tengah masyarakat global yang majemuk.
Mari kita jadikan kelas kita sebagai ruang yang hangat. Ulurkan tangan kepada mereka yang terasingkan, buka lingkaran pertemanan untuk siapa saja, dan ingatlah bahwa setiap individu berharga. Karena pada akhirnya, kenyamanan belajar adalah hak semua murid, tanpa terkecuali.
Toleransi Nyata di Lingkungan Sekolah
Kebudayaan yang hebat tidak lahir dari ruang yang tertutup dan mengisolasi diri. Kemajuan sebuah peradaban justru diukur dari seberapa lebar pintu toleransi dibuka untuk menerima keberagaman. Di lingkungan sekolah, esensi budaya ini mewujud nyata dalam tindakan sederhana namun berdampak besar:
- Menghormati teman yang sedang khusyuk beribadah.
- Mengulurkan tangan membantu sesama yang kesulitan belajar.
- Menghapus ejekan berbasis suku dari ruang candaan.
Itulah praktik konkret dari budaya inklusif di level pelajar: ketika perbedaan tidak lagi sekadar ditoleransi, melainkan dirayakan sebagai sebuah kekayaan bersama. Kebudayaan kita tidak diukur dari megahnya bangunan masa lalu, melainkan dari seberapa ramah kita memperlakukan perbedaan hari ini. Hari gini, sudah tidak zaman pilih-pilih teman!
Harmoni & Keberlanjutan: Melokal tapi Mendunia
Harmoni tidak pernah lahir dari satu suara yang sama. Ia layaknya pertunjukan musik orkestra yang saling mendukung. Jika setiap alat musik hanya membunyikan nadanya sendiri tanpa memedulikan yang lain, yang terdengar hanyalah kebisingan. Namun, saat perbedaan nada itu saling mengisi, bergantian dengan anggun, dan berpadu dengan kompak, terciptalah karya seni yang luar biasa indah.
Keberagaman Indonesia adalah untaian nada-nada tersebut. Kita diciptakan berbeda bukan untuk saling mendominasi, melainkan untuk saling melengkapi. Di dalam ruang toleransi, perbedaan kita bertransformasi menjadi sebuah harmoni bangsa yang tiada duanya di dunia. Kebinekaan kita menjadi panduan dalam meramu perbedaan itu menjadi begitu indah. Dari Sabang sampai Merauke kita disuguhkan beragam adat istiadat, bahasa, dan seni yang berkolaborasi dengan baik tanpa memandang perbedaan.
Tantangan Keberlanjutan: Budaya Kita, Tanggung Jawab Kita
Mengapa keberlanjutan budaya itu mutlak? Karena dua puluh tahun lagi, saat Anda menjadi pemimpin, menteri, atau guru di negeri ini, budayalah yang menjadi pembeda kita dengan bangsa lain. Sikap masa bodoh hari ini adalah tiket kepunahan budaya di masa depan. Kita tidak boleh membiarkan sebuah tragedi terjadi: ketika anak-cucu kita harus merantau ke luar negeri hanya untuk belajar menenun dan pencak silat karena tradisi tersebut telah mati di rumahnya sendiri. Jaga keberlanjutan ini, karena menjaga budaya berarti menjaga kedaulatan bangsa.
Gaya hidup berkelanjutan bukan sekadar tren modern, melainkan panggilan jiwa untuk menjaga alam. Di lingkungan sekolah, prinsip ini hidup melalui kearifan lokal yang nyata. Budaya gotong royong membersihkan kelas diajarkan untuk menumbuhkan rasa kepemilikan bersama. Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya melatih kedisiplinan dan kepedulian lingkungan. Sementara itu, kesadaran menghemat air adalah langkah konkret menghargai sumber kehidupan. Melalui tindakan-tindakan kecil ini, kita sedang merawat bumi sekaligus mengakar pada tradisi luhur bangsa.
Saatnya kita berkolaborasi, membuat budaya Nusantara naik kelas dan menjadi trending topic global. Kalau bukan kita yang memviralkannya, siapa lagi? Kita hanya perlu memanfaatkan media sosial secara bijak sebagai alat promosi kuliner daerah, adat istiadat lokal, dan keunikan tradisi di sekitar kita. Lewat satu klik kreatif di jemari kita, mari tunjukkan pada dunia betapa kayanya kebudayaan yang kita miliki!
